RIMBA BARA - Penuturan Sang Penjaga


Si Jabrik mengikuti langkah Baskara. Mereka berjalan dalam diam. Walau suasana telah gelap, Baskara masih hafal jalan menuju pondok, sekian waktu berada di dalam rimba si pemuda mulai memiliki kepekaan, dan matanya makin awas mengingat tiap tanda yang ada.

Berkali-kali ia menyobek kainnya, agar obor di tangan tetap menyala. Selang beberapa lama, matanya berbinar, tak jauh di depannya, pondok yang ia bangun telah kelihatan wujudnya.

"Tanjung.. Laras.. ini aku, bukakanlah pintu..." panggil Baskara saat telah berada di depan pintu pondok.

"Iya Kakang.." satu suara menyahuti. Pintu terbuka, Laras yang membukanya, tak jauh di belakang tampak Tanjung. Wajah mereka terlihat ceria melihat kedatangan si pemuda.

Baskara menoleh kebelakang, pemuda jabrik yang ditemuinya berdiri agak jauh di belakangnya. "Ayolah, kita telah sampai."

Dengan langkah ragu si jabrik mendekat. Sosoknya kini tampak oleh cahaya dian minyak kelapa dari dari dalam pondok.

"Kakang..?" sepatah kata bernada tanya keluar dari mulut Laras.

Baskara kembali menoleh ke arah Laras. "Ah ya, malam ini aku kembali tidak sendiri Laras, kita punya teman baru. Baiknya mari kita masuk dulu, nanti biar kujelaskan di dalam."

Laras mengangguk. Baskara lantas masuk, kembali ia mesti mempersilahkan pemuda jabrik yang tampak masih ragu-ragu.

Di dalam si pemuda mengangsurkan hewan buruannya. "Kupertaruhkan dengan nyawaku, kuharap pantas sebagai barang bawaan."

Baskara tertawa, "Kau begitu merepotkan dirimu sahabat, tapi baiklah, terus terang memang untuk hewan buruan aku sampai senja tadi berkeliaran di dalam hutan." Diterimanya rusa buruan si jabrik, selagi dibawanya kebelakang, ia meminta Tanjung untuk membuat minum dan menyiapkan santap malam.

Beberapa lama Baskara mengurusi rusa. Dikulitinya, di potong-potong. Setelahnya di serahkan kepada Tanjung untuk di olah, agar nantinya di keringkan agar awet untuk persediaan makanan.

Kembali di ruang depan, minuman dan makanan sudah tertata rapih, di sajikan dengan gelas bambu, dan piring-piring tanah liat. Si pemuda jabrik duduk termangu, terkesan masih sungkan dengan keberadaannya.

"Maafkan menunggu terlalu lama sahabat, kalau tidak segera di urusi, aku takut daging rusamu tidak bagus lagi," ucap Baskara memecah kesunyian.

Si Jabrik melengak, ia mengangguk-angguk. "Iya betul Kakang."

"Eh? Kenapa pula kau panggil aku Kakang?"

"Ku rasa usiamu lebih tua dariku, jadi wajar bila kupanggil Kakang," jawabnya polos.

"Rupanya begitu, baiklah. Dan kau, apa keberatan bila kupanggil Adi?" tanya Baskara lagi.

"Tentu tidak Kakang."

Baskara memandang kesana kemari, seakan-akan mencari sesuatu. "Hei, bukankah kau ada membekal senjata pedang Adi? Kemanakah pusaka itu?"

"Oh, Pedang Raja? Aku menaruhnya di luar Kakang, kurang sopan rasanya bila kubawa masuk."

Baskara tersenyum, "Demikian kiranya. Sudahlah, lanjutkan nanti obrolan kita, perutku lapar betul, marilah kita santap sajian yang sudah di siapkan oleh Laras dan Tanjung."

Merekapun bersantap, di selingi dengan percakapan terkait keberadaan masing-masing. Dan dari percakapan itu, Baskara kini tahu, si pemuda jabrik bernama Watu Aji. Minggu yang lalu tersesat di dalam hutan, saat hendak mengambil jalan memintas ke tempat yang di tuju.

"Heran betul Kakang, bertahun-tahun melanglang buana, keluar masuk hutan, baru kali ini kutemui rimba yang begini menyesatkan," pungkasnya.

"Itulah Adi, maka kubilang kita bernasib sama, dan bila kau berkenan, karena sama-sama berasal dari luar rimba ini, alangkah baiknya bila kita tinggal bersama, saling membantu," kemudian di ceritakannya pula apa-apa yang telah di ketahuinya.

Watu Aji mendengar dengan hikmat, dan selesai Baskara bertutur, ia terdiam beberapa lama seakan tengah berpikir. Kemudian ia berucap, "Apa yang Kakang ceritakan sangat menarik, walau terkesan penuh bahaya yang mengintai."

"Bagaimana putusmu Adi? Maukah engkau tinggal bersama kami?" tanya Baskara.

"Tentu, dengan perkenan Kakang saya bersedia, bersatu akan lebih kuat menghadapi segala ancaman."

Baskara gembira mendengar jawab Watu Aji, iapun mengatakan, "Besok kita perlebar pondok ini Adi, kita buat satu ruang lagi untuk kamarmu."

***

Esoknya kesibukan dimulai, Baskara dibantu Watu Aji menambah satu ruang di pondok. Yang di peruntukkan buat pemuda Jabrik itu. Dengan tenaga yang kuat dan kepiawaian mereka, dalam tempo dua hari kamar yang terbuat dari kayu beratapkan dedaunan kering telah selesai.

"Lihat Adi, kamar untukmu telah siap, mulai malam nanti bolehlah kau tempati," kata Baskara pada Si Jabrik.

Tapi Watu Aji menggeleng, "Tidak Kakang, kamar itu untuk Kakang."

"Eh? Kenapa pula kau ini? Bukankah dari awal kita membuatnya untukmu?"

"Bukan aku tidak menghormatimu Kakang, seumur hidup aku terbiasa tidur di alam terbuka, karena itu, kalau Kakang mengijinkan, biarlah aku tidur di dipan kayu yang terbiasa Kakang buat istirahat, dan Kakang tempatilah kamar yang baru ini," jelas Watu Aji.

Kini Baskara yang ganti menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dan apa yang akan kau buat bila aku menolak memberikan dipan kayu itu?"

"Yah kalau Kakang menolak terpaksa aku..." Si Jabrik menggantung ucapannya.

"Kau akan apa Watu Aji?" tanya Baskara penasaran.

"Aku akan buat dipan kayu sendiri Kakang, dan kita sama-sama tidur di luar...."

Baskara terbahak mendengar jawaban Si Jabrik. "Kau benar-benar keras hati Adi, baiklah, ketimbang sia-sia, aku akan tempati kamar ini, tapi jangan salahkan aku bila kau kedinginan tidur di luar."

Malamnya ia ajak Si Jabrik mengunjungi si tua Raganata, sudah beberapa hari Baskara tak bercakap dengannya, Laras dan Tanjunglah yang ditugasinya mengantar makanan di siang hari.

Di lihatnya cahaya kekuningan terlihat lebih terang dari biasanya, mungkin karena malam ini rembulan enggan menampakkan indahnya.

Dari jauh Baskara melihat bila si orang tua tidak sendiri, ada sosok lain bersamanya, duduk saling berhadapan.

Setelah dekat Baskara segera mengenali siapa yang menjadi tamu si orang tua. Pemimpin Keluarga Pengembara kiranya, Kudeto.

Dua orang yang tengah bercakap memalingkan wajah mereka ke arah kedatangan Baskara dengan Si Jabrik. Mereka menyambut dengan senyuman.

"Mari Ananda, mari..." tangan kanan si Raganata menghilang sekejap, kejap lain ia menaruh satu benda di sebelah kanan depannya. Sebuah kursi kayu. Kini kursi kayu ada empat jumlahnya, dua di duduki Ki Raganata dan Kudeto, dua lainnya masih kosong.

Pemuda itu mengunjuk hormat pada Ki Raganata dan Kudeto di ikuti oleh Watu Aji.

"Duduklah...." pinta Ki Raganata.

Mereka berduapun duduk di dua kursi yang tersedia.

"Rekan baru Ananda?" ucap Ki Raganata bernada tanya sambil mengamati Si Jabrik.

Baskara mengangguk, "Benar Ki. Sahabat baru. Tak sengaja bertemu. Sama denganku, tersesat di Rimba Bara."

"Pemuda yang menarik," cuma itu yang di ucap Ki Raganata selepas memandangi Si Jabrik.

"Tak kuduga tuan sudah sedemikian akrab dengan Sang Penjaga," ucap Kudeto tiba-tiba.

Baskara berpaling, ia tersenyum, "Sayapun tak menduga akan bertemu tuan pengembara di sini. Sang Penjaga? Ah, inipun istilah baru bagi saya."

"Ha ha.. jangan bingung Ananda, satu kewajaran Kudeto tahu keberadaanku, cahaya kristal kuning milikku yang mengundangnya kemari." Raganata menunjukkan tangan lurus kedepan. "Bisa kau lihat, sebagian wilayah ini rerumputan, walau ada pepohonan, tapi tak seberapa jumlahnya. Dan di sana kereta kuda tuan Kudeto, nyala api tanda kehidupan dapat kita lihat diantara sela pepohonan di depan, begitupula tentu saja ia melihat cahaya kristalku" jelas si orang tua.

Baskara mengikuti arah yang ditunjukkan, dan memang di lihatnya kelip cahaya di kejauhan.

"Sang Penjaga merupakan sahabatku tuan Baskara, kami sering berjumpa dalam perjalanan, dan rupanya langkah kami di pertemukan di sini, kurasa ada baiknya sering-sering pula kita berhubungan, mungkin segala permasalahan dapat kita pecahkan bersama. Itupun bila si tua ini merasa nyaman berlama berdiam di sini."  Kudeto bangkit dari duduknya, "Masih banyak yang bisa kita obrolkan, tapi aku punya tanggungan keluarga yang tak patut kutinggal lama, untuk itu mohon maaf untuk undur diri lebih dulu," ucapnya kemudian.

Baskara hendak mengucap kata mencegah, namun diurungkannya, "Sayapun ingin pula berbincang lebih lama dengan tuan kembara, mungkin di waktu lain saya berkunkung kembali ketempat tuan."

Setelah pamit dengan si orang tua, Kudeto meraih semacam tongkat pendek yang disandarkan di akar pohon besar, menyalakannya. Kemudian dengan langkah mantap menerobos pekatnya malam dengan nyala obor di tangan.

Baskara memandangi kepergian tuan pengembara hingga tubuhnya lenyap di antara pepohonan, lalu kembali menghadap Ki Raganata. Orang tua itu tampak seperti merenungkan sesuatu.

"Tampaknya ada sesuatu yang tengah Aki fikirkan?" tanyanya.

Lelaki tua itu mengangguk, "Benar Ananda, ini perihal apa yang di kabarkan si Kudeto."

"Apakah itu Ki?"

"Gangguan Para Gulot," jawabnya.

"Sejujurnya Ki, itupula yang ingin kutanyakan padamu," ujar Baskara.

"Siapa nama kawanmu ini?" tanya si orang tua mengalihkan bicara.

"Saya Watu Aji Ki," jawab Si Jabrik.

Ki Raganata mengelus jenggotnya, "Pancaran cahaya gaib yang keluar dari tubuhmu hampir sama kuatnya dengan Ananda Baskara, kalian berdua ini bukan manusia sembarangan." Pandang matanya silih berganti memandang Baskara dan Watu Aji.

"Maksud Aki?" tanya Baskara penasaran.

"Seperti yang di katakan Kudeto, aku adalah Sang Penjaga Ananda, tugasku menjaga wilayah Rimba Bara, mengingatkan sesiapa yang tersesat akan bahaya yang ada, dan mengatasi segala ancaman yang ada." Ia berhenti sejurus. "Karena hanya Golongan Para Mistiklah yang mampu melihat realitas tabir gaib, sehingga tahu apa yang golongan lain tidak tahu."

Kembali Baskara di buat bingung dengan ucapan-ucapan si orang tua. Heran betul ia, tiap kali bercakap dengan Ki Raganata, selalu pening kepala di buatnya, namun anehnya, semua yang di ucapkan si orang tua sekalipun membingungkan, makin menggelitik rasa ingin tahunya.

"Jelaskanlah Ki, jelaskanlah semua, tentang Para Gulot, Para Iblis, Para Mistik, Golongan, dan juga Para Ksatria. Terus terang, aku masih belum paham seluruhnya."

"Minumlah, racikan terdiri dari rempah-rempah, layak untuk menghangatkan badan." Sekali lagi di unjukkannya kepandaian tangannya, karena entah kapan, sudah ada nampan dengan dua gelas bambu di atasnya.

Baskara ambil keduanya, satu untuknya, dan satu gelas di angsurkan ke Si Jabrik.

"Dengar baik-baik Ananda, akan kujelaskan apa-apa yang kau tanyakan." Matanya memandang rembulan. Bila tadi sang bulan tersaput awan, kini tampak cemerlang menghias langit malam. "Di Rimba Bara ada jenis-jenis, golongan-golongan, dan tingkatan-tingkatan," ucapnya. "Jenis itu terdiri dari para manusia, para siluman, dan para iblis. Manusia adalah seperti kita-kita inilah. Para siluman merupakan perpaduan antara manusia dengan iblis. Sedang Iblis adalah makhluk-makhluk yang keluar dari gerbang neraka," lanjutnya.

Ia pandangi si pemuda, saat dilihatnya Baskara diam, ia berkata kembali, "Golongan manusia terdiri dari Para Petarung, Para Mistik, dan Para Abdi. Kau Jabrik, Kudeto, adalah contoh petarung, dua rekan gadismu contoh Para Abdi, sedang aku adalah masuk ke golongan Para Mistik."

Baskara mulai memahami apa yang di paparkan si orang tua. Ia tundukkan wajah mencoba lebih meresapi.

"Sedang tingkatan terdiri dari Tingkat Utama, Tingkat Kesatu, Tingkat Kedua, Tingkat Ketiga, dan Tingkat Rerata." Lantas Ki Raganata berhenti menjelaskan. Dua pemuda di depannya tetap diam tak bersuara. "Hei!? Apakah kalian tertidur?" tanyanya keheranan.

Dua pemuda sama mendongak, "Tidak Ki, kami sungguh-sungguh mendengarkan," sahut Baskara.

"Jadi sudah kujawab semua yang kau tanyakan, adakah yang belum jelas?"

"Para Gulot Ki, termasuk apakah mereka?" tanya si pemuda.

"Para Gulot termasuk Jenis Para Iblis, kebanyakan mereka Golongan Petarung, tapi tingkatan terendah, Tingkat Rerata," jawab Ki Raganata.

"Terus bagaimana dengan ulah mereka Ki? Maksudku seperti apa yang di ceritakan tuan pengembara, kenapa mereka mulai unjukkan nyali?"

Si orang tua termenung sesaat, "Itulah yang kufikirkan tadi, semenjak pertempuran belasan tahun silam, Kaum Iblis berhasil di pukul hancur, dan Gerbang Gaib kembali tersegel, kenapa kini Para Gulot kembali berulah?"

"Atau adakah yang memimpin mereka Ki?" Teringat Baskara kemungkinan yang di sampaikan Tuan Kudeto.

Ki Raganata mengetukkan jarinya pada gelas bambu di depannya. "Aku belum berani menyimpulkan, kurasa perlu penyelidikan lebih lanjut."

"Apakah selain Para Gulot masih ada jenis Para Iblis lain yang hidup Ki?"

Pandang mata Ki Raganata memandang dalam ke arah si pemuda, "Sayangnya begitu adanya, Sang Dedengkot Iblis konon tidak betul-betul mati, hanya terluka parah, sangat muskil untuknya kembali pongah tebarkan ancaman. Selama ini yang merisaukan Rimba Bara hanyalah Para Gulot dan Para Siluman. Dan bila nyata Sang Dedengkot Iblis betul mampu pulih, aku tidak sanggup membayangkan akibatnya, mungkin Rimba Bara berubah menjadi Rimba Neraka..."

Bersambung.

EPISODE SEBELUMNYA | EPISODE SELANJUTNYA

Baca SERIAL RIMBA BARA lainnya.

Kumpulan Cerita Misteri, Cerita Silat, Cerita Horor, Cerita Remaja, Cerita Anak, Cerita Religi, Cerita Lucu, Cerita Sejarah, Cerita Petualangan, Cerita Detektif, Cerita Pendek, Cerita Serial, dll.

Post a Comment